‘Sedih’
(Jilingsi, 23 Syawwal 1434)
Termenungnya
diriku atas dasar yang tak jelas
Mencari
– cari jati diri yang terbang terhembus nafas
Jika
boleh kutulis di atas sebuah kertas…
Atas
dasar apa dendam ini tidak terbalas
Alas kakiku pergi tak pernah berujung
Menyambut kesombongan manusia yang
terselubung
Pada setiap denyut nadi yang
konsisten berdengung
Menyatu dan
berirama saling terhubung
Rasa benci akan cacatnya tubuh ini sangat dalam
Mengapa tak dilebihkan atas jasad ini walau setetes garam
Aku hanya diberi sisa luka atas jurang yang amat curam
Tidakkah ada obat yang bisa mengobati luka lebam ?
Sedih… Kalimat aneh nan
lalim dalam kamus besar hidupku
Membuat semua bioma tubuh
ini menjadi begitu kaku
Bah seekor singa besar bodoh
tak berkuku
Yang menyerang mangsanya
dengan jubah ragu
Sedih… Pasukan musuhku yang paling dibenci
Tapi mengapa terkadang malah ingin dicari
Padahal ia telah membunuh setiap harapan hati sanubari
Mencari – cari titik hati yang susah didekati
