Selasa, 04 Maret 2014

Ibnu Abi Khumairah Ibrhem Alu Batawi




‘Sedih’
(Jilingsi, 23 Syawwal 1434)



Termenungnya diriku atas dasar yang tak jelas
Mencari – cari jati diri yang terbang terhembus nafas
Jika boleh kutulis di atas sebuah kertas…
Atas dasar apa dendam ini tidak terbalas

            Alas kakiku pergi tak pernah berujung
            Menyambut kesombongan manusia yang terselubung
            Pada setiap denyut nadi yang konsisten berdengung
            Menyatu dan berirama saling terhubung

Rasa benci akan cacatnya tubuh ini sangat dalam
Mengapa tak dilebihkan atas jasad ini walau setetes garam
Aku hanya diberi sisa luka atas jurang yang amat curam
Tidakkah ada obat yang bisa mengobati luka lebam ?

Sedih… Kalimat aneh nan lalim dalam kamus besar hidupku
Membuat semua bioma tubuh ini menjadi begitu kaku
Bah seekor singa besar bodoh tak berkuku
Yang menyerang mangsanya dengan jubah ragu

Sedih… Pasukan musuhku yang paling dibenci
Tapi mengapa terkadang malah ingin dicari
Padahal ia telah membunuh setiap harapan hati sanubari
Mencari – cari titik hati yang susah didekati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar